"

Rabu, 10 Juli 2013

Minyak Atsiri Indonesia

 

Arianto Mulyadi

MENGENAL PASAR MINYAK ATSIRI INDONESIA

Arianto Mulyadi, Manager, Business Development PT Indesso Aroma
Volume perdagangan minyak atsiri dunia diperkirakan bernilai sekitar USD4 milliar pada tahun 2007. Indonesia adalah salah satu pengekspor utama minyak atsiri dunia dengan nilai ekspor minyak atsiri dan turunannya: lebih dari USD120 juta pada tahun 2007. Di antara sekitar 3 ratus jenis minyak atsiri, terdapat puluhan jenis minyak atsiri yang sudah, sedang dan berpotensi dikembangkan di Indonesia. Makalah ini, selain memaparkan perkiraan volume output dunia dan Indonesia, juga membahas karakteristik singkat industri pengguna minyak atsiri secara singkat.
1. Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian lebih dari 1000 ton per tahun
1.1. Minyak daun dan gagang cengkeh (clove leaf oil & clove stem oil)
Perkiraan pemakaian dunia saat ini sekitar 3500 ton/tahun, Indonesia adalah produsen utama, memproduksi sekitar 2500 ton pada tahun 2007. Pengguna utamanya adalah industri kimia aromatik, flavor & fragrance dan farmasi.
1.2. Minyak sereh wangi (citronella oil)
Perkiraan pemakaian dunia saat ini lebih dari 2000 ton/tahun, Indonesia adalah produsen nomor 3 dunia (setelah China & Vietnam) dengan produksi pada 2007 sekitar 300 ton. Kebutuhan dalam negeri China akhir-akhir ini meningkat dan diperkirakan mencapai 800 ton per tahun sehingga posisinya sewaktu-waktu bisa beralih menjadi netimporter. Pengguna produk ini sangat beragam dan berkembang antara lain industri flavor & fragrance, detergent, obat nyamuk dan kimia aromatik
1.3. Minyak nilam (patchouli oil)
Perkiraan pemakaian dunia pada tahun 2006 sekitar 1500 ton/tahun dan Indonesia adalah produsen utama. India & China sampai sejauh ini belum mampu berproduksi lebih dari 100ton/tahun. Situasi tahun 2007-2008 yang tidak kondusif berakibat turunnya produksi dan pemakaian sampai lebih dari 40%. Pemakai utamanya adalah industri fragrance


1.4. Minyak terpentin (turpentine Oil)
Indonesia adalah produsen dengan output sekitar 10,000 ton per tahun (nomor dua setelah China). Pemakai utamanya adalah industri kimia aromatik.
Pasar minyak-minyak di atas relatif mudah diraih. Yang paling penting dalam meraih pasar tersebut adalah penyediaan bahan baku yang berkelanjutan serta teknik produksi yang efisien dan mutu minyak yang sesuai. Minyak atsiri lain yang berpotensi pemakaian di atas 1000 ton per tahun adalah mint oil (mentha arvensis) dan beberapa jenis citrus oil, menurut beberapa penelitian bisa dikembangkan di Indonesia. Mint & Citrus oil merupakan minyak atsiri dengan potensi pemakaian puluhan ribu ton per tahun.
2. Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian antara 100-1000 ton per tahun
2.1. Minyak Pala (nutmeg oil) dan minyak fuli (mace oil)
Perkiraan permintaan dunia lebih dari 250 ton per tahun dan Indonesia adalah pemain utama dengan volume ekspor lebih dari 200ton per tahun. Akhir-akhir ini output menurun drastic karena hama yang menyerang tanaman pala di Sumatera.
2.2. Minyak Akar Wangi (vetiver oil)
Perkiraan permintaan dunia lebih dari 200 ton per tahun. Pemain utama minyak akar wangi adalah Haiti. India berproduksi cukup besar (puluhan ton per tahun), namun permintaan dalam negerinya lebih besar daripada output. Indonesia merupakan pemain penting dengan sentra produksi di Garut (output saat ini diperkirakan berkisar antara 20-30 ton per tahun).
2.3. Minyak Kayu Putih (cajeput oil)
Perkiraan permintaan dunia lebih dari 100 ton per tahun dengan pemakaian terkonsentrasi di regional Asia Tenggara. Sedangkan di dunia, minyak eukaliptus lebih banyak dipakai
3. Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian kurang dari 100 ton per tahun
3.1. Minyak Cendana (sandalwood oil)
Perkiraan permintaan dunia lebih dari 50 ton per tahun. Pemain utamanya adalah India. Indonesia (sebelum Timor Timur merdeka) pernah menduduki peringkat 2. Saat ini, Australia melakukan penaman santalum album besar-besaran dan dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi pemain utama dunia.
3.2. Minyak Kananga (Cananga Oil)
Minyak atsiri ini hanya diproduksi di Indonesia dengan output sekitar 20 ton per tahun. Di dunia pemakaian minyak kananga masih terbatas dibandingkan minyak ylang ylang.
3.3. Minyak Massoi (Massoia Bark Oil)
Minyak atsiri ini hanya diproduksi di Indonesia dengan output lebih dari 5 ton per tahun. Minyak ini merupakan sumber natural lactone. Minyak Lada Hitam (Black Pepper Oil) Minyak atsiri Indonesia dengan potensi pemakaian kurang dari 100ton per tahun.
3.4. Minyak Kemukus (Cubeb Oil)
Minyak atsiri ini hanya diproduksi di Indonesia dengan output beberapa ton per tahun. Kemukus adalah tanaman liar merambat  yang bijinya juga dibutuhkan sebagai bahan obat tradisional maupun bumbu masakan India.
3.5. Minyak Daun Jeruk Purut (Kaffir Lime Leaf Oil)
Minyak atsiri ini hanya di produksi di Indonesia dengan output beberapa ton per tahun. Pemakaian sementara ini hanya untuk fragrance, padahal potensi di flavor cukup besar hanya saja minyak atsiri ini belum memiliki nomor FEMA.
Masih ada beberapa minyak atsiri Indonesia lainnya seperti minyak lawang yang hanya dipakai di pasar domestik untuk obat gosok dan mempunyai nilai ekonomi rendah, minyak gurjun yang bisa berfungsi sebagai fixative namun pengadaan bahan bakunya berkategori ilegal, minyak lada hitam (black pepper oil) yang produsen utamanya adalah India (sebagian bahan baku impor dari Indonesia) dan mereka beroperasi efisien dengan mengintegrasikan produksi oleoresin dan oil. Selain itu juga banyak disebut di media beberapa jenis minyak atsiri dari bahan baku bunga. Sejauh ini produksinya masih sangat terbatas dan berskala kecil sekali dan belum mencapai skala ekonomis untuk bersaing dengan produsen utama di India, Mesir maupun Eropa Timur.
Pemasaran minyak atsiri tidak bisa terlepas dari penggunaannya. Industri pengguna utama minyak atsiri adalah industri flavor & fragrance, industri kimia aromatik, industri farmasi, industri kosmetik (termasuk spa) dan toiletries (termasuk detergent), industri pengendalian serangga/hama serta industri makanan & minuman.
Hampir semua jenis minyak atsiri digunakan untuk industri flavor & fragrance. Oleh karena itu, sektor ini adalah pasar utama minyak atsiri. Pemain utama industri ini adalah perusahaan multinasional dan sebagian besar juga sudah beroperasi di Indonesia. Perkiraan penjualan mereka pada 2007 mencapai USD19.8 milyar dan 69% dikuasai 10 perusahaan besar seperti terlihat pada diagram di bawah (sumber: http://www.leffingwell.com).
00
Bagi perusahaan-perusahaan tersebut, Indonesia menempati posisi yang strategis, baik sebagai sumber bahan baku maupun sebagai pasar. Yang  mereka harapkan dari pemasok minyak atsiri terutama adalah kesinambungan pasokan, konsistensi kualitas dan harga yang wajar.
Industri kedua yang masih berhubungan dengan industri flavor & fragrance dan merupakan industri antara adalah industri kimia aromatik.  Beberapa minyak atsiri memiliki gugus kimia aromatik yang bisa diisolasi dan direaksikan untuk mendapatkan gugus kimia aromatik lain. Yang berkembang di Indonesia adalah industri kimia aromatik turunan minyak cengkeh (eugenol dll) dan minyak sereh wangi (citronellal dll). Sedangkan yang masih berpotensi untuk dikembangkan adalah industri turunan minyak terpentin (alpha pinene, beta pinene dll). Industri ini membutuhkan minyak atsiri berharga ekonomis karena produk kimia aromatik turunannya masih memerlukan beberapa tahap proses isolasi maupun reaksi lagi. Beberapa produk seperti misalnya geraniol, bisa diproduksi dari sumber bahan baku lain (bukan minyak atsiri) yang lebih ekonomis.
Industri farmasi dengan riset dan pengembangan yang dinamis menyediakan peluang terhadap pemakaian minyak atsiri maupun kimia aromatik turunan minyak atsiri. Industri lain yang prospektif adalah industri spa, kosmetik, makanan-minuman dan pengendalian serangga/hama. Meskipun pasar ini prospektif, kepastian pasar perlu dicermati seksama. Prinsip membuat barang yang diminta pembeli lebih tepat diterapkan daripada membuat barang untuk dijual.