Kamis, 01 Februari 2018

Makhluk Istimewa, Dimutilasi Tak Mati, Tanpa Mata Bisa Melihat

Schmidtea mediterranea.
Schmidtea mediterranea.(Wikimedia Commons )
KOMPAS.com – Cacing pipih jenis Schmidtea mediterranea punya kemampuan yang luar biasa.
Bak monster di film-film horor, cacing itu tak mati meski dimutilasi. Bila kepalanya dipenggal, cacing itu tak menyerah kalah tetapi malah menumbuhkan kepala baru.


Tak cuma itu, cacing yang hidup di wilayah India itu juga bisa melihat tanpa mata.
Bila matanya hilang bersama terpenggalnya kepala, cacing itu mengalihkan tugas mata ke jaringan lain.
Ahli biologi Akash Gulyani dari National Centre for Biological Sciences di Bangalore, India, menemukan kemampuan istimewa cacing itu secara tak sengaja.
Gulyani menerangkan, cacing S mediterrania punya struktur yang sederhana. Pembagian antara kepala, dada, dan perut masih primitif. Demikian juga matanya.
Mata primitif cacing itu berisi lapisan sel yang merespon rangsangan cahaya melalui gumpalan sinyal neuron. Cacing cenderung menghindari cahaya ultraviolet.
Jaringan yang peka terhadap cahaya di mata cacing pipih terdiri dari sel berpigmen yang mengandung opsin, sebuah protein yang mengubah panjang gelombang radiasi menjadi sesuatu yang akan ditanggapi oleh saraf.
Kemampuan cacing S mediterrania melihat tanpa mata terungkap secara tak sengaja.
Saat melakukan pengamatan pada cacing yang kepalanya terpenggal, Gulyani mengetahui bahwa cacing itu masih menghindari cahaya ultraviolet.
Rupanya, kemampuan unik itu disebabkan oleh jaringan-jaringan lain pada tubuh yang siap menggantikan fungsi mata. Sistem itu dikenal dengan sistem sensorik ekstraokuler.
Tanpa mata, kemampuan mendeteksi cahaya menjadi penting untuk bisa dihindari. Begitu mata mereka tumbuh, tugas tersebut akan diambil alih kembali.
Tak hanya cacing pipih, hewan lainnya yang punya kemampuan serupa diantaranya seperti sotong, hydra, dan lalat buah.
"Karena planaria memiliki struktur mata dan jaringan saraf yang tampak sederhana namun serupa dengan pada hewan lain. Penginderaan seperti ini mungkin tersebar luas di alam," tulis peneliti dalam laporan mereka yang dipublikasikan di Science Advance pada pada Jumat (28/7/2017).
sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar